Sakralitas Sumur Tua dan Kacang Serta Pisang Suguhan Dalam Tradisi Malam Qunut Di Kecamatan Batudaa Gorontalo

10 Mei 2020
Penulis 

 

Kacang yang dijual saat pelaksanaan tradisi malam qunut di Batudaa Kabupaten Gorontalo.

 

ClickNnews.com [Gorontalo] - Setiap memasuki malam tanggal 15 Ramadan, di Gorontalo, ada sebuah tradisi yang cukup unik dilakukan oleh masyarakat wabilkhusus di Kecamatan Batudaa, yakni Malam Qunut.

Di malam itu, setelah melaksanakan salat trawih bersama di masjid, masyarakat akan berkumpul sambil makan kacang dan pisang. Tidak ada penjelasan historis yang pasti sejak kapan tradisi ini mulai diberlakukan dalam lanskap sejarah Islam dan adat di Gorontalo.

Penjelasan satu-satunya yang paling banyak dikutip oleh para penulis, intelektual, dan dikenal luas oleh masyarakat Gorontalo adalah, tradisi ini muncul dari kebiasaan masyarakat pada malam pertengahan Ramadan.

Selain berkumpul dan makan pisang-kacang bersama, dulunya, berdasarkan para penutur setempat, tradisi ini juga dibarengi dengan ritual mandi dosa.

Salah satu sumur tua yang berada di Batuda’alah yang diambil airnya dalam pelaksanaan ritual tersebut. Masyarakat percaya dengan melakukan ritual itu, dosa-dosa mereka akan terhapuskan.

Sayang, setelah para sesepuh meninggal dunia, ritual ini mulai hilang. Tersisalah tradisi makan kacang dan pisang sebagai satu-satunya variabel penting di dalam Malam Qunut.

Untuk diketahui, pertama, tidak ada pertanyaan-pertanyaan teologis dari para ahli agama soal mandi dosa ini. Boleh jadi telah ada kesepakatan bahwa mandi dosa dan sumur tua yang dikeramatkan warga setempat itu bukanlah dua tradisi yang bertentangan dalam Islam, melainkan telah saling mengisi dan sebagai perwujudan dari falsafah daerah Gorontalo “adati hula-hula to syara’, syara hula-hula to kitabullah”.

Kedua, sebagai konsekuensi logis dari poin pertama, hilangnya perdebatan di dalam tradisi mandi dosa ini seolah meneguhkan kembali definisi “adat”
yang sesungguhnya, yakni sebagai “kebudayaan” yang terdiri dari nilai, norma, kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat setempat.

Nah saat menggunakan kata adat untuk mendeskripsikan fenomena kebudayaan atau tradisi masyarakat karena, adat itu memiliki arti yang kaku.

Tentu saja, adat berangkat dari kebudayaan masyarakat sebelum ia terinstitusionalisasi menjadi sebuah hukum adat. Transformasi hukum adat biasanya ditetapkan oleh lembaga adat dengan berbagai macam timbangan dan konsekuensi hukum yang disepakati bersama.

Pendek kalimat, setelah mengalami institusionalisasi, tidak semua kebiasaan masyarakat itu dapat disebut sebagai adat. Sebaliknya, kebudayaan itu bersifat cair dan melekat pada konteks, ikatan, dan otoritas yang dimiliki oleh figur-figur yang dihormati pada sebuah komunitas masyarakat di setiap tempat.

Oleh karena itu, secara langsung dapat dikatakan bahwa setiap kebudayaan itu orisinil dan dapat dibedakan dengan kebudayaan yang berada di tempat lain.

Kedua, transformasi kebudayaan menjadi adat itu biasanya diikat oleh sesuatu yang sakral. Di dalam komunitas masyarakat adat, apabila sebuah ketentuan adat tidak dilaksanakan.

Pada prinsipnya, lembaga ini bertindak layaknya Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dalam ketatanegaraan modern. Lembaga ini bisa memberhentikan olongia (raja) manakala ia melanggar komitmennya dan mengkhianati amanat rakyat.

Pendek kalimat, Bantayo Poboqide juga bertindak sebagai lembaga yang memperhatikan dan mengontrol pelaksanaan pemerintahan kerajaan. Setiap kebijakan, lewat Bantayo, dipastikan telah sesuai dengan ajaran Islam dan adat.

Namun demikian, Bantayo juga berfungsi untuk merumuskan dan menetapkan hukum adat. Olongia (raja) tidak memiliki kewenangan sama sekali dalam menetapkan hukum adat; sebaliknya, Bantayolah yang memiliki hak ini lewat musyawarah dan mufakat. Dan setiap adat yang telah disepakati bersama harus dipatuhi oleh setiap masyarakat Gorontalo.

Salah satu kebudayaan yang ditetapkan di dalam Bantayo Poboqide adalah adat menikahkan keturunan olongia (raja) atau bangsawan ke sesama bangsawan. Hukum ini berlaku dengan asumsi mendasar untuk menjaga dan melestarikan keningratan keturunan raja. Keturunan raja, pada akhirnya akan mendapatkan pelayanan dan penghargaan yang lebih layak dari mereka yang bukan keturunan raja, dan pandangan semacam ini lazim di dalam setiap sistem ketatanegaraan berbasis monarki.

Akan tetapi, setelah waktu bergulir cukup lama, aturan ini mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Perlahan, dalih tentang siapa keturunan raja dan bukan keturunan raja mulai mencair. Alhasil, siapa pun dapat dengan bebas untuk menetukan jodohnya. Bagi saya, mencairnya hukum adat ini justru menunjukkan watak asli kebudayaan Gorontalo yang egaliter. Di dalam prinsip egaliter itu, tidak ada lagi batas antara siapa keturunan raja dan bukan keturunan raja. Watak asli ini, pendek kalimat, meniscayakan corak berpikir dan berbudaya masyarakat Gorontalo yang bersifat sangat terbuka dan menerima perubahan. Ia diterjemahkan sesuai dengan konteks zaman, sebelum belakangan terinstitusionalisasi dalam lembaga-lembaga adat dan menjadi kaku.

Berdasarkan distingsi antara adat dan kebudayaan yang telah dipetakan di atas, dengan demikian, Malam Qunut bukanlah adat, melainkan sebuah tradisi dan kebudayaan yang dipertahankan secara turun-temurun oleh masyarakat Gorontalo. Ia dapat dilaksanakan, boleh juga tidak. Itulah yang membuat, di satu sisi “makan kacang dan pisang” tetap dilestarikan; sedang di sisi lain, mandi dosa mengalami kerentanan sebagai salah satu variable tradisi Malam Qunut yang telah ditinggalkan. Kematian para sesepuh yang bertindak sebagai figur utama dalam mandi dosa juga berlaku sebagai faktor pendukung kenapa tradisi ini hilang.

Malam Qunut, lewat pisang dan kacang, juga turut memperkokoh ekonomi masyarakat lokal. Dalam waktu semalaman, pasar-pasar di Batuda’a atau yang terletak di daerah lain akan menyediakan bertandan-tandan pisang dan berkilo-kilo kacang untuk dijual. Dan bisa dipastikan, dua produk lokal itu akan habis terjual. Tradisi Malam Qunut, pendek kalimat, tidak hanya memperkuat silaturahmi, namun juga turut melanggengkan sistem ekonomi kerakyatan tradisional.

Di dalam situasi pandemi seperti ini, barangkali situasi Malam Qunut itu tetap terlaksana, meskipun dalam dibalut dengan kecemasan dan ketakutan. Tapi satu hal yang akan selalu diingat di dalam kepala setiap Muslim Gorontalo di paruh kedua Ramadhan: Malam Qunut adalah kebudayaan yang meneguhkan harmoni, tali-temali kekeluargaan, dan silaturahmi yang diikat oleh dua prinsip yang mengakar, yakni Islam dan kebudayaan.

Ahad, 10/5/2020. (Zul)

Tinggalkan Komentar Anda

Terimakasih Telah Berpartisipasi Memberikan Komentar

English News

Peduli Bencana

Sosok dan Komunitas

PT. TRIPUTRA MEDIA NUSANTARA

AKTA PENDERIAN PERSEROAN TERBATAS

PT. TRIPUTRA MEDIA NUSANTARA

No.07 Tanggal, 10 Desember 2019

KEPUTUSAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

REPUBLIK INDONESIA : Nomor AHU-006384.AH01.01.Tahun 2019

BERITA TERPOPULER

PENULIS POPULER